Gelombang Serangan Udara Rusia Hantam Ukraina, Kyiv Kembali Jadi Sasaran Utama
Gelombang Serangan Udara Rusia Hantam Ukraina, Kyiv Kembali Jadi Sasaran Utama
KYIV, Ukraina (11 Juli 2025) – Ukraina kembali menjadi sasaran serangan udara skala besar yang dilancarkan Rusia, dengan Ibu Kota Kyiv menerima gempuran bertubi-tubi pada Rabu (9/7) malam hingga Kamis (10/7) kemarin. Serangan ini menandai malam kedua berturut-turut di mana Rusia meningkatkan intensitas serangannya, menunjukkan indikasi taktik baru untuk mengacaukan sistem pertahanan udara Ukraina yang telah menahan gempuran selama ini.
Menurut laporan dari otoritas Ukraina, serangan rudal dan drone yang diluncurkan dari berbagai arah ini telah menewaskan sedikitnya dua orang, termasuk seorang polisi perempuan berusia 22 tahun, dan melukai lebih dari selusin lainnya. Ledakan besar terlihat di langit malam Kyiv, dengan asap pekat dan bau terbakar menyelimuti kota, memicu kekhawatiran dan kepanikan di kalangan warga. Beberapa pesawat nirawak bahkan dilaporkan terbang melewati kota sebelum berbalik arah dan kembali menyerang, sebuah manuver yang diyakini sengaja dilakukan untuk mengelabui dan membebani sistem pertahanan.
Angkatan Udara Ukraina melaporkan adanya serangan drone dan rudal balistik yang lebih banyak dari Rusia sepanjang malam. Serangan drone juga terjadi di wilayah Donetsk, Lyubotyn di Kharkiv, serta di Mykolaiv dan Sumy, meskipun belum ada laporan mengenai korban atau kerusakan di daerah-daerah tersebut.
Serangan skala besar ini terjadi di tengah pertemuan penting antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan senator Amerika Serikat di Roma, yang membahas sanksi terhadap Moskow dan dukungan berkelanjutan untuk Kyiv. Intensifikasi serangan udara Rusia pekan ini telah memicu kekhawatiran lebih lanjut dari komunitas internasional dan sekutu Ukraina. NATO bahkan telah mengerahkan jet tempurnya dari Polandia sebagai respons atas serangan udara terbesar yang pernah dilancarkan Rusia terhadap Ukraina sejak invasi skala penuh dimulai pada Februari 2022.
Pengerahan jet tempur dan peningkatan kesiapan sistem pertahanan oleh NATO merupakan sinyal jelas bahwa aliansi tersebut tidak menganggap enteng ancaman dari intensifikasi serangan Rusia, terutama mengingat kemungkinan eskalasi konflik hingga ke wilayah perbatasan aliansi. Sementara itu, di Washington, mantan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya dikabarkan berupaya menghalangi Putin menyerang Ukraina dengan ancaman keras, kini mengkritik keras serangan Rusia yang terus berlanjut.
Situasi di Ukraina tetap tegang dan tidak dapat diprediksi. Dengan serangan udara yang semakin intensif, dan kekhawatiran akan penggunaan senjata kimia yang dituduhkan kepada Rusia, masyarakat internasional terus menyerukan upaya damai. Namun, hingga saat ini, diplomasi tampaknya masih menemui jalan buntu, meninggalkan Ukraina dalam bayang-bayang konflik yang terus berlanjut.
Komentar
Posting Komentar