Konflik Iran-Israel: Siklus Saling Serang dan Dampak Global Terkini (25 Juni 2025)


Konflik Iran-Israel: Siklus Saling Serang dan Dampak Global Terkini (25 Juni 2025)

Konflik antara Iran dan Israel telah memasuki fase yang sangat intens, menandai konfrontasi militer langsung terburuk dalam sejarah permusuhan kedua negara. Perkembangan terkini menunjukkan situasi yang sangat volatil dan penuh ketidakpastian.

Berikut adalah rangkuman perkembangan terbaru hingga 25 Juni 2025:


1. Siklus Saling Serang yang Intens

  • Serangan Israel: Pada Kamis, 19 Juni 2025, militer Israel melancarkan serangan terbaru di Teheran dan beberapa wilayah lain di Iran, termasuk fasilitas nuklir Arak dan Khondab. Israel menuduh Iran melanggar gencatan senjata yang sempat diklaim oleh Presiden AS Donald Trump. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan jet tempur mereka telah menghantam markas besar keamanan dalam negeri Iran.

  • Respons Iran: Iran membalas dengan menembakkan rudal balistik Sejjil—sebuah senjata jarak jauh berbahan bakar padat—yang diklaim mampu menembus sistem pertahanan udara Israel. Rudal-rudal Iran ini menghantam sejumlah target di Israel, termasuk rumah sakit di selatan dan gedung bursa efek Tel Aviv. Iran melaporkan telah meluncurkan sekitar 400 rudal balistik dan 1.000 pesawat nirawak sejak 13 Juni, dengan sekitar 20 rudal menghantam wilayah sipil di Israel.

  • Korban Jiwa: Laporan dari Iran pada hari Minggu menyebutkan bahwa serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 224 orang, termasuk tokoh militer, ilmuwan nuklir, dan warga sipil. Sementara itu, di Israel, korban jiwa mencapai 24 orang dengan sekitar 200 orang terluka akibat serangan Iran.

2. Krisis Komunikasi dan Informasi

  • Internet Mati Total di Iran: Hampir seluruh wilayah Iran mengalami pemutusan akses internet secara nasional. Ini menyulitkan aliran informasi dari dan ke luar Iran, mempersulit verifikasi laporan korban dan dampak serangan.

  • Perang Narasi: Kedua belah pihak terlibat dalam perang narasi, saling mengklaim kemenangan. Israel menuduh Iran melanggar gencatan senjata, sementara Iran mengklaim telah menghentikan serangan setelah menerima balasan berat.

3. Perkembangan Gencatan Senjata dan Mediasi

  • Klaim Gencatan Senjata Trump: Presiden AS Donald Trump sempat mengumumkan bahwa Iran dan Israel telah menyepakati gencatan senjata total pada Senin (23/6/2025) malam waktu AS. Namun, di lapangan, gencatan senjata ini tidak langsung terwujud sempurna, dengan Iran masih terus melancarkan serangan dan dibalas Israel. Trump dilaporkan "murka" kepada Israel atas pelanggaran gencatan senjata ini.

  • Mediasi Qatar: Kesepakatan gencatan senjata yang ada berhasil dicapai setelah negosiasi yang juga difasilitasi oleh Qatar.

  • Sikap Internasional: Dunia menyambut baik gencatan senjata ini dengan hati-hati. Presiden Rusia Vladimir Putin mencari solusi dan menyatakan kemungkinan kesepakatan untuk mengakhiri perang masih terbuka. Indonesia bersama 22 negara lainnya mengecam keras serangan Israel yang dimulai sejak 13 Juni 2025.

4. Dampak Lebih Luas

  • Isu Nuklir: Serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, seperti Arak, memicu kekhawatiran global. G7 dan Uni Eropa menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, menyebutnya "ancaman eksistensial".

  • Situasi di Israel: Pertahanan udara Israel dilaporkan cukup efektif dalam menggagalkan sebagian besar serangan, namun kehancuran rumah sakit di selatan Israel menunjukkan ada celah yang berhasil ditembus.

  • Dampak Penerbangan: Konflik ini menyebabkan penutupan sementara delapan wilayah ruang udara (FIR) di Timur Tengah, meskipun FIR Bahrain dan Qatar sudah mulai dibuka kembali, mengganggu banyak penerbangan sipil, termasuk jemaah haji.

  • Ekonomi: Meskipun terjadi konflik, bursa saham Tel Aviv justru menunjukkan tren positif, naik hampir 5% pada Juni. Namun, kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak global dan dampaknya terhadap inflasi tetap tinggi, dengan ekonom di Indonesia memperingatkan potensi krisis ekonomi jika Selat Hormuz ditutup.

  • Kecukupan Amunisi Israel: Laporan dari pejabat AS yang dikutip NBC News menyebutkan bahwa Israel mulai mengalami kekurangan sejumlah senjata penting, terutama amunisi, setelah 12 hari berperang melawan Iran. Ini memicu spekulasi bahwa Israel lebih membutuhkan perdamaian dibandingkan Iran.

Konflik ini telah mengubah dinamika permusuhan Iran-Israel secara fundamental, mendorongnya ke tingkat konfrontasi langsung yang belum pernah terjadi. Dunia kini mengamati dengan cermat, berharap gencatan senjata dapat bertahan dan mencegah eskalasi yang lebih parah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Memicu Konflik Iran vs. Israel Baru-baru Ini? Mengurai Akar Eskalasi 2025

Bukan Sendirian: Menguak Para Pendukung Iran dalam Konfrontasi Israel

Skenario De-eskalasi dan Peran Mediasi Internasional dalam Konflik Iran-Israel